Tajuk Rencana
ABSENNYA MEGAWATI SOEKARNOPUTRI PADA
PELANTIKAN PRESIDEN KE-8
Pelantikan Prabowo Subianto sebagai
Presiden kedelapan Republik Indonesia dilaksanakan pada hari Minggu, 20 Oktober
2024, di Kompleks Parlemen, Jakarta. Acara ini menandai dimulainya pemerintahan
lima tahun Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden.
Namun, absennya Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDIP, dalam pelantikan ini
menimbulkan banyak pertanyaan dan spekulasi terkait arah politik partai yang
dipimpinnya. Apakah ini sekadar masalah kesehatan, ataukah ada makna yang lebih
dalam di balik ketidakhadirannya?
Dikutip dari laman CNN Indonesia,
ketidakhadiran Megawati diikuti oleh pernyataan Puan Maharani, Ketua DPP PDIP,
yang mengindikasikan bahwa partainya tidak akan mengirim perwakilan ke kabinet
Prabowo. Sementara itu, Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, yang juga merupakan
kontestan Pilpres 2024 yang diusung PDIP, turut tidak hadir dalam acara
tersebut. Puan menegaskan, “Kami akan mendukung pemerintahan Pak Prabowo di
parlemen, namun tidak menempatkan kader di kabinet.” Mengapa PDIP memilih untuk
mengambil jarak? Apakah ini langkah strategis atau justru tanda ketidakpuasan?
Namun pada laman tribunnews.com,
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai
ketidakhadiran Megawati sebagai sikap politik yang jelas, mencerminkan
keputusan PDIP untuk tidak bergabung dengan kabinet Prabowo. Meski demikian, ia
berpendapat bahwa PDIP tidak akan sepenuhnya menjadi oposisi, mengingat
hubungan baik yang telah terjalin antara Megawati dan Prabowo selama
bertahun-tahun. “PDIP akan coba berupaya di luar kabinet, namun tidak
sepenuhnya menjadi oposisi,” kata Jamiluddin. Lantas, apakah ini berarti PDIP
akan mengambil posisi semi-oposisi?
Sementara itu, dalam penjelasannya,
Ketua DPP PDIP, Ahmad Basarah, menyampaikan bahwa Megawati meminta maaf atas
ketidakhadirannya karena masalah kesehatan. Megawati mengalami batuk yang
disebabkan oleh debu saat melakukan napak tilas ke St Petersburg, Rusia, dan
Uzbekistan. Ia khawatir kondisinya akan mengganggu prosesi pelantikan yang
harus berlangsung khidmat. Basarah menjelaskan bahwa Megawati telah
menugaskannya untuk menyampaikan pesan dan amanat kepada Prabowo, termasuk
ucapan selamat ulang tahun yang jatuh pada 17 Oktober.
Basarah menegaskan bahwa absennya
Megawati bukanlah bentuk ketidakacuhan terhadap presiden terpilih. Sebagai
gantinya, ia telah memerintahkan seluruh anggota DPR PDIP untuk hadir dalam
pelantikan. Selain itu, Megawati juga berpesan agar Prabowo fokus pada tugas
dan tanggung jawabnya sebagai presiden, terutama dalam menghadapi berbagai
persoalan global yang mendesak.
Meskipun absennya Megawati dalam
pelantikan Prabowo menimbulkan banyak spekulasi, hubungan baik antara keduanya
diyakini akan tetap terjalin. Megawati berencana untuk bertemu Prabowo setelah
pelantikan, dan berharap hubungan tersebut dapat menjadi jembatan silaturahmi
yang efektif antara keduanya.
Sebagai kesimpulan, meskipun
ketidakhadiran Megawati dalam pelantikan membawa pertanyaan, hal ini juga
membuka peluang untuk dialog dan kolaborasi di masa depan. PDIP dan Prabowo
perlu mencari cara untuk bekerja sama demi kepentingan bangsa, meskipun ada
perbedaan pandangan. Bukankah kita semua menginginkan stabilitas dan kemajuan
bagi negara ini.



